Quote
Factory Buyer Rate Questions

blog

Biaya Logistik Last Mile: Mengapa Tahap Akhir Bisa Menghabiskan Setengah dari Anggaran Pengiriman Anda?

20 May 2026

By Andy Wang     Photo:CANVA

 

Introduction
Impor lintas negara bukan hanya soal satu tagihan biaya pengiriman. Sejak barang meninggalkan titik asal, biaya mulai muncul di setiap tahap perjalanan, dan setiap tahap memiliki logika, variabel, serta potensi kejutannya sendiri.

Sebagian besar importir dan distributor berpengalaman biasanya cukup memahami komponen biaya besar seperti ocean freight, air freight, dan biaya customs clearance. Biaya-biaya ini biasanya dibahas, dinegosiasikan, dan dipantau. Namun ada satu kategori biaya yang sering luput dari perhatian, sering diremehkan dalam anggaran, jarang dipisahkan secara khusus, dan biasanya baru disadari ketika terjadi masalah.

Kategori itu adalah last mile.

Setelah barang tiba di negara tujuan, baik di pelabuhan, bandara, maupun gudang, barang masih harus menempuh tahap terakhir menuju titik penerimaan sebenarnya. Sekilas, tahap ini terlihat seperti perjalanan pendek dan sederhana. Namun porsi biayanya terhadap total biaya logistik kemungkinan jauh lebih besar dari yang Anda bayangkan.

Artikel ini membahas tahap tersebut: apa saja biaya yang sebenarnya muncul, mengapa prosesnya lebih kompleks daripada kelihatannya, dan mengapa bisnis perlu memberi perhatian lebih besar pada last mile dibandingkan yang selama ini dilakukan.

  1. Last Mile: Apakah Hanya Perjalanan Pendek Menuju Titik Akhir?

Sebagian besar importir menyusun anggaran logistik dengan pola yang mirip: ocean freight mengambil porsi terbesar, lalu ditambahkan biaya customs clearance, inland transport dihitung secara kasar, dan sisanya dimasukkan ke dalam kategori umum seperti biaya lain-lain.

Pendekatan ini tidak sepenuhnya salah. Namun ada satu titik buta yang sangat umum: biaya last mile hampir selalu terkubur dalam kategori biaya lain-lain tersebut, sehingga tidak pernah benar-benar dianalisis secara mandiri.

Secara intuitif, hal ini memang mudah dipahami. Dibandingkan dengan mengirim barang melintasi samudra, jarak beberapa puluh atau beberapa ratus kilometer terakhir menuju titik pengiriman terlihat seolah tidak terlalu berpengaruh dalam keseluruhan biaya. Banyak orang menganggap, tentu bukan di sinilah biaya terbesar muncul.

Namun angka sebenarnya menunjukkan hal yang berbeda. Berdasarkan riset industri logistik, porsi biaya last-mile delivery terhadap total biaya logistik terus meningkat, dari 41% pada tahun 2018 menjadi 53% pada tahun 2024. Artinya, lebih dari separuh dari setiap biaya logistik yang Anda keluarkan terjadi pada tahap akhir ini. Bukan ocean freight. Bukan customs clearance. Tetapi last mile.

Angka ini cukup jauh dari perkiraan kebanyakan orang.

Dan kenaikannya belum berhenti. Data industri tahun 2025 menunjukkan bahwa antara 2024 dan 2025, biaya delivery secara keseluruhan naik rata-rata 12%. Kurva tersebut terus bergerak naik dari tahun ke tahun. Ini bukan anomali sementara.

  1. Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan “Last Mile”?

Sebelum masuk ke rincian biaya, kita perlu menyamakan pemahaman terlebih dahulu, karena istilah “last mile” bisa memiliki arti berbeda bagi setiap orang.

Dalam konteks logistik B2B lintas negara, last mile merujuk pada pergerakan barang setelah proses import customs clearance selesai, dari pelabuhan tujuan, bandara, atau gudang menuju titik penerimaan akhir. Titik penerimaan tersebut bisa berupa pabrik, gudang, pusat distribusi, toko ritel, atau fasilitas milik klien, tergantung pada model operasional bisnis Anda.

Secara fisik, tahap ini sering kali pendek, kadang hanya beberapa puluh kilometer. Namun kompleksitas operasionalnya jauh lebih besar daripada jaraknya. Alasannya cukup sederhana: last mile adalah pengiriman yang tersebar, bukan transportasi terkonsolidasi.

Kontainer yang bergerak dari pelabuhan asal ke pelabuhan tujuan mengikuti rute tetap dengan efisiensi tinggi. Biaya per unit dapat dibagi ke dalam volume barang yang sangat besar. Namun begitu barang masuk ke pasar tujuan, barang mulai bergerak ke berbagai arah: dibongkar, disortir, dan dikirim ke beberapa titik penerimaan yang masing-masing memiliki kondisi, jadwal, dan persyaratan sendiri.

Sifat pengiriman yang tersebar inilah salah satu alasan mendasar mengapa biaya last mile begitu sulit ditekan.

  1. Mengapa Last Mile Secara Alami Mahal?

Angka 53% memang mencolok, tetapi tetap bisa terasa abstrak. Untuk benar-benar memahaminya, kita perlu melihat komponen biaya last mile itu sendiri.

Tenaga kerja adalah komponen terbesar, mencakup sekitar setengah dari seluruh biaya last-mile delivery. Ini tidak mengejutkan jika kita melihat bahwa pengiriman tersebar masih sangat bergantung pada pekerjaan fisik manusia di setiap titik: mengemudi ke lokasi, mencari pintu masuk yang benar, menunggu proses bongkar, meminta tanda tangan, dan menangani situasi apa pun yang muncul di lokasi.

Selain itu, ada biaya bahan bakar, yang umumnya menyumbang sekitar 10 hingga 25% dari total biaya, serta perawatan kendaraan yang berada di kisaran 20%.

Namun struktur biaya saja belum menjelaskan keseluruhan persoalan. Last mile mahal karena alasan yang lebih mendasar: tingkat efisiensinya secara struktural lebih rendah dibandingkan bagian lain dalam rantai pasok.

Bayangkan kapal laut yang menyeberang dari satu benua ke benua lain dengan membawa ribuan kontainer di rute tetap. Biaya per unit tersebar ke volume yang sangat besar. Ini adalah operasi yang sangat efisien.

Last mile bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Satu kendaraan delivery mungkin hanya melakukan belasan pemberhentian dalam sehari, dengan waktu bongkar yang tidak selalu dapat diprediksi, kemacetan lalu lintas, keterbatasan parkir, dan sesekali muncul kendala dari pihak penerima barang.

Ketidakefisienan struktural inilah yang membuat biaya per kilometer pada tahap last mile jauh lebih tinggi daripada tahap perjalanan sebelumnya.

Tekanan yang mendorong kenaikan biaya ini juga tidak akan hilang dalam waktu dekat. Kekurangan tenaga kerja, volatilitas harga bahan bakar, dan regulasi yang semakin ketat bekerja secara bersamaan, dan belum terlihat tanda-tanda bahwa tekanan tersebut akan mereda.

Kenaikan biaya last mile bukan sekadar siklus pasar. Ini adalah perubahan struktural jangka panjang yang perlahan mengubah ekonomi logistik.

Karena itu, ketika Anda menyusun gambaran biaya untuk sebuah shipment, last mile bukanlah pos biaya yang cukup diperkirakan secara kasar lalu ditinggalkan begitu saja. Struktur biayanya lebih kompleks daripada yang sering diperhitungkan, dan laju kenaikannya lebih sulit diprediksi dibandingkan komponen logistik lainnya.

  1. Biaya yang Tidak Pernah Muncul di Invoice

Biaya last mile tidak dimulai dan berakhir pada invoice delivery. Ada satu kategori biaya yang sering baru disadari oleh banyak bisnis setelah kejadian berlangsung, dan hampir tidak pernah dimasukkan ke dalam anggaran sejak awal. Ini adalah biaya yang muncul akibat kegagalan delivery pada percobaan pertama.

Data industri menunjukkan bahwa tingkat kegagalan delivery pada percobaan pertama berada di sekitar 5%. Sekilas angka ini mungkin tidak terdengar mengkhawatirkan. Namun jika diterapkan pada volume shipment yang cukup besar, dampaknya cepat menumpuk.

Setiap kegagalan delivery membawa biaya langsung sekitar USD 17 hingga 18, mencakup penjadwalan ulang, pengiriman kendaraan kembali, serta pekerjaan administratif yang menyertainya.

Namun biaya langsung tersebut hanyalah bagian yang mudah terlihat.

Dalam logistik B2B, delivery yang terlambat atau gagal jarang berhenti sebagai sekadar ketidaknyamanan. Dampaknya bisa mengganggu jadwal produksi klien, menunda peluncuran penjualan, atau mengacaukan rencana restocking. Beberapa kontrak klien juga memiliki klausul SLA, atau Service Level Agreement, yang berarti jika delivery tidak memenuhi standar yang disepakati, penalti atau pemotongan biaya dapat berlaku secara otomatis.

Kerugian seperti ini tidak muncul di invoice logistik mana pun, tetapi tetap merupakan kerugian nyata.

Lalu ada biaya yang paling tidak terlihat: waktu. Ketika delivery bermasalah, tim Anda menghabiskan berjam-jam untuk mengejar update, berkoordinasi dengan carrier, menjelaskan situasi kepada klien, dan menyusun ulang jadwal.

Jam kerja yang habis dalam proses tersebut sering kali lebih besar nilainya daripada biaya redelivery itu sendiri, tetapi hampir tidak pernah tercatat dalam laporan biaya formal.

Inilah sebabnya biaya last mile sebenarnya berada dalam tiga lapisan: invoice yang Anda terima, kerugian langsung dari kegagalan delivery, dan biaya tersembunyi yang tidak pernah dihitung secara resmi tetapi diam-diam menguras waktu, energi, dan hubungan bisnis.

Sebagian besar perusahaan hanya melihat lapisan pertama.

  1. B2B Last-Mile Delivery: Kompleksitas di Tingkat yang Berbeda

Jika gambaran biaya sejauh ini sudah terdengar rumit, last-mile delivery untuk B2B menambahkan satu lapisan kompleksitas lagi.

Dalam delivery B2C, penerima barang adalah individu. Paket bisa diletakkan di depan pintu, dititipkan ke tetangga, atau diserahkan ke pengelola gedung. Umumnya masih ada fleksibilitas. Jika percobaan pertama gagal, penjadwalan ulang biasanya relatif mudah.

B2B adalah dunia yang berbeda.

Pihak penerima adalah bisnis: pabrik, gudang, pusat distribusi, lokasi ritel, atau mitra channel. Operasi seperti ini berjalan berdasarkan jadwal mereka sendiri, dan biasanya tidak mudah menyesuaikan diri dengan kendala delivery.

Janji temu sering kali wajib dibuat, dan slot waktu yang tersedia biasanya sempit. Beberapa fasilitas hanya menerima delivery pada jam tertentu. Jika slot tersebut terlewat, delivery bisa bergeser ke hari berikutnya, atau bahkan beberapa hari setelahnya.

Pembatasan kendaraan juga berlaku. Tidak semua truk bisa masuk ke setiap lokasi. Kawasan industri dan gudang besar sering membatasi akses hanya untuk jenis kendaraan atau tonase tertentu.

Loading dock bisa penuh, sementara jumlah dock yang tersedia pada satu waktu terbatas. Beberapa kendaraan bisa tertahan dan harus menunggu. Spesifikasi pallet harus sesuai, label harus berada di posisi yang benar, dokumen delivery harus lengkap, dan prosedur sign-off harus mengikuti sistem internal klien.

Satu detail saja yang tidak dikonfirmasi dapat membuat truk tertahan di gerbang tanpa bisa masuk, atau sudah masuk tetapi delivery tetap tidak bisa diselesaikan.

Situasi seperti ini sangat umum terjadi dalam logistik B2B lintas negara, ketika shipper dan receiver berada di negara berbeda, zona waktu berbeda, dan memiliki visibilitas terbatas terhadap kondisi aktual di lokasi masing-masing.

Banyak detail ini bukan sengaja disembunyikan. Sering kali, detail tersebut memang tidak pernah ditanyakan, dan tidak ada pihak yang terpikir untuk menyampaikannya.

Ketika delivery B2B gagal, konsekuensinya cenderung jauh lebih serius dibandingkan B2C. Bagi konsumen individu, paket terlambat adalah ketidaknyamanan. Namun bagi pabrik yang menunggu komponen untuk melanjutkan produksi, atau distributor yang perlu menempatkan produk di rak sebelum akhir bulan, keterlambatan satu hari saja bisa berdampak berantai pada seluruh jadwal downstream.

  1. Mulai dari Shipment Berikutnya: Cara Berpikir yang Berbeda tentang Biaya

Memahami bagaimana biaya last mile terbentuk adalah satu hal. Mengetahui apa yang harus dilakukan setelah itu adalah hal lain.

Bagian ini bukan manual operasional langkah demi langkah. Ini lebih merupakan titik awal praktis untuk memikirkan last mile dengan cara yang lebih tepat.

Pertama: pisahkan biaya last mile dari kategori “biaya lain-lain”.

Dalam banyak anggaran logistik, biaya last mile dimasukkan ke dalam satu pos umum yang tidak jelas. Masalahnya bukan hanya perhitungan yang kurang presisi. Masalah utamanya adalah ketika biaya pada segmen ini mulai bergerak tidak sesuai perkiraan, Anda tidak memiliki baseline untuk dibandingkan dan tidak punya cara untuk melacak dari mana masalah berasal.

Menjadikan last mile sebagai line item tersendiri, meskipun masih berupa estimasi kasar, adalah titik awal yang jauh lebih berguna daripada membiarkannya tidak terlihat.

Kedua: pastikan persyaratan dari pihak penerima sudah jelas sebelum shipment berangkat.

Ini terdengar jelas, tetapi dalam praktiknya, banyak bisnis baru mulai menanyakan kondisi lokasi delivery setelah barang sudah tiba di negara tujuan. Slot waktu delivery, pembatasan akses kendaraan, prosedur unloading, dokumen yang dibutuhkan, semuanya perlu diketahui lebih awal.

Jika hal-hal ini baru diatur pada menit terakhir, ruang untuk penyesuaian menjadi kecil dan kemungkinan terjadi masalah menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya.

Ketiga: pilih mitra logistik berdasarkan kemampuan mereka mengelola tahap ini, bukan hanya berdasarkan tarif unit terendah.

Harga delivery per titik yang rendah memang bisa terlihat menarik. Namun jika mitra tersebut tidak mampu memahami kebutuhan operasional pihak penerima sejak awal, dan tidak dapat merespons dengan cepat serta jelas ketika terjadi masalah, penghematan di atas kertas sering kali keluar kembali dalam bentuk keterlambatan, redelivery, dan kerusakan hubungan dengan klien.

Last mile perlu diperlakukan sebagai area manajemen tersendiri, bukan sebagai tambahan di bagian akhir dari rantai logistik yang seolah sudah direncanakan dengan baik.

Begitu Anda mulai melihatnya dengan cara tersebut, banyak biaya dan risiko yang sebelumnya terasa samar akan menjadi jauh lebih mudah dilihat dan dikelola.

Conclusion
Last mile mudah diremehkan. Bukan karena tahap ini tidak penting, tetapi karena ia muncul di bagian paling akhir dari rantai logistik, setelah perhatian semua orang sudah tersita oleh tahap-tahap sebelumnya yang lebih terlihat.

Pada saat last mile menjadi masalah, barang biasanya sudah dekat dengan titik penerimaan, atau bahkan sudah berada di sana. Ruang untuk memperbaiki situasi pun menjadi sempit.

Perusahaan yang sudah cukup lama menjalankan logistik lintas negara biasanya mempelajari hal ini dengan cara yang tidak mudah, melalui beberapa pengalaman yang membuat mereka mulai memberi perhatian lebih besar pada tahap ini. Namun jika kesadaran itu bisa muncul lebih awal, banyak biaya dan gesekan sebenarnya dapat dicegah.

TGL (Team Global Logistics) adalah freight forwarder internasional dan platform koordinasi rantai pasok 4PL. Ketika kami membantu bisnis merencanakan logistik lintas negara, last mile selalu menjadi bagian dari pembahasan sejak awal, bukan sesuatu yang baru ditambahkan di bagian akhir.

Jika Anda sedang meninjau kembali struktur biaya logistik Anda, atau ingin mendiskusikan bagaimana last-mile delivery masuk ke dalam operasional B2B lintas negara Anda, kami dengan senang hati siap terhubung.

 

Kami akan sangat menghargai jika Anda dapat membagikan Blog TGL kepada teman-teman yang tertarik dengan informasi pasar rantai pasok terkini serta perkembangan ekonomi terbaru.

Get a Quote Go Top