Dari Pengiriman Internasional hingga Last Mile, Perusahaan Membutuhkan Rantai Logistik yang Dapat Dikelola

By Martina Kao Photo:CANVA
1. Perusahaan Membutuhkan Koordinasi Rantai Pasok, Bukan Sekadar Lebih Banyak Penyedia Logistik
Ketika proses logistik sebuah perusahaan mulai mencakup berbagai negara, pasar, dan saluran penjualan, tantangannya tidak lagi sesederhana memilih siapa yang akan mengangkut barang.
Satu pengiriman dapat dimulai dari titik asal, lalu bergerak melalui pengiriman laut atau udara internasional, proses kepabeanan di negara tujuan, transportasi darat, penerimaan di gudang, manajemen inventori, alokasi pesanan, hingga akhirnya masuk ke tahap last mile delivery atau pengiriman tahap akhir. Setiap tahap mungkin terlihat memiliki penyedia jasa yang bertanggung jawab, tetapi yang sebenarnya dikelola oleh perusahaan adalah satu rantai pengiriman yang utuh.
Inilah mengapa peran fourth-party logistics, atau 4PL, menjadi semakin penting.
Nilai 4PL bukan terletak pada melakukan semuanya secara langsung, dan bukan pula sekadar membantu perusahaan mengumpulkan lebih banyak penawaran dari penyedia logistik. Fungsi utamanya adalah menjadi koordinator rantai pasok, membantu perusahaan menghubungkan berbagai titik logistik agar pengiriman internasional, kepabeanan, pergudangan, distribusi, dan laporan status tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Dalam model logistik tradisional, perusahaan sering mengelola berbagai penyedia jasa secara terpisah. Perusahaan pelayaran atau maskapai menangani jalur transportasi utama. Pialang pabean mengurus deklarasi dan proses rilis barang. Gudang menangani penerimaan dan pengeluaran barang. Penyedia pengiriman menangani tahap akhir distribusi. Masing-masing pihak memahami pekerjaannya sendiri, tetapi tidak banyak yang berada pada posisi untuk meninjau apakah seluruh proses pengiriman dapat berjalan lancar dari awal sampai akhir.
Di sinilah masalah sering mulai muncul.
Ketika jadwal kapal tertunda, apakah gudang sudah menyesuaikan rencana penerimaannya?
Setelah proses kepabeanan selesai, apakah trucking dapat diatur tepat waktu?
Setelah barang masuk ke gudang, apakah status inventori sudah diperbarui?
Ketika pesanan siap dikirim, apakah penyedia pengiriman memahami persyaratan penerimaan di lokasi tujuan?
Ketika pelanggan meminta pembaruan status, apakah perusahaan tahu persis pihak mana yang harus dihubungi?
Tanpa peran koordinasi yang terintegrasi, perusahaan harus bolak-balik berkomunikasi dengan banyak titik kontak. Secara fisik barang mungkin tidak berhenti, tetapi aliran informasinya bisa terhambat. Prosesnya mungkin tidak sepenuhnya gagal, tetapi keterlambatan, pekerjaan berulang, dan kesalahpahaman tetap dapat terjadi di antara setiap titik logistik.
Dari perspektif 4PL, perusahaan tidak membutuhkan layanan yang semakin terfragmentasi. Mereka membutuhkan kerangka koordinasi yang lebih jelas.
Rantai logistik yang dapat dikelola seharusnya memungkinkan perusahaan mengetahui di mana posisi barang, siapa yang akan mengambil alih tahap berikutnya, informasi apa yang perlu dikonfirmasi sebelumnya, dan siapa yang akan mengonsolidasikan pembaruan ketika terjadi pengecualian atau kendala. Kemampuan manajemen ini secara langsung memengaruhi apakah last mile delivery dapat diselesaikan dengan andal.
Karena last mile delivery bukan tindakan pengiriman yang berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari bagaimana tahap-tahap sebelumnya dalam rantai pasok direncanakan dan dikoordinasikan.
2. Gudang Bukan Hanya Tempat Penyimpanan Sementara. Gudang Adalah Pusat Kendali Sebelum Last Mile
Ketika banyak perusahaan memikirkan gudang, hal pertama yang muncul biasanya adalah tempat penyimpanan. Namun dalam logistik terintegrasi, peran gudang sudah lama melampaui sekadar memasukkan barang ke dalam gudang dan mengeluarkannya ketika ada pesanan.
Gudang adalah salah satu titik transisi paling penting antara arus barang internasional dan last mile delivery.
Transportasi internasional membawa barang ke negara tujuan, tetapi kedatangan barang dan selesainya proses kepabeanan tidak berarti barang langsung siap dikirim. Barang harus terlebih dahulu masuk ke gudang dan melalui proses bongkar, penerimaan, pencocokan jumlah, penempatan barang, pencatatan sistem, konfirmasi inventori, pencocokan pesanan, picking, packing, pelabelan, dan pengaturan outbound. Setiap langkah ini dapat memengaruhi efisiensi last mile.
Dengan kata lain, gudang bukan tempat pasif yang hanya menunggu proses pengiriman terjadi. Gudang adalah pusat operasional yang mengubah barang impor menjadi pesanan yang siap dipenuhi.
Hal ini sangat penting untuk kanal B2B, pengisian ulang gudang luar negeri, dan perusahaan yang membutuhkan pengiriman ke banyak titik.
Untuk perusahaan B2B, gudang mungkin perlu mendukung jadwal penerimaan khusus pelanggan, persyaratan palet, label kemasan, dokumen inbound, dan prosedur proof of delivery atau bukti pengiriman. Untuk merek yang sedang memperluas pasar, lokasi gudang, alokasi inventori, dan kemampuan distribusi pesanan dapat secara langsung memengaruhi biaya last mile dan fleksibilitas pengiriman.
Jika operasional gudang tidak direncanakan dengan baik, last mile dapat dengan mudah dipaksa menanggung masalah dari tahap sebelumnya.
Misalnya, barang mungkin sudah masuk ke gudang, tetapi jika proses penerimaan belum selesai, sistem tidak dapat mengonfirmasi jumlah yang tersedia untuk pengiriman keluar. Atau barang mungkin sudah ditempatkan di rak, tetapi jika informasi lokasi bin tidak jelas, kecepatan picking akan melambat. Bisa juga data pesanan tidak terhubung dengan sistem gudang, sehingga instruksi outbound terlambat. Dalam kondisi seperti ini, meskipun penyedia pengiriman memiliki kendaraan yang tersedia, mereka tetap tidak dapat mengambil barang tepat waktu.
Masalah seperti ini mungkin tidak terlihat seperti masalah pengiriman pada umumnya, tetapi pada akhirnya akan muncul sebagai keterlambatan pengiriman, biaya pengiriman ulang, waktu tunggu pelanggan, dan tekanan komunikasi internal.
Itulah sebabnya perusahaan tidak seharusnya mengevaluasi last mile delivery hanya dari kecepatan pengiriman. Mereka juga perlu melihat ke belakang dan bertanya apakah gudang memiliki kemampuan operasional yang cukup untuk mendukung proses pengiriman.
Lebih tepatnya, sebagian besar stabilitas last mile bergantung pada apakah gudang dapat mengubah barang menjadi status siap kirim secara akurat, cepat, dan transparan.
3. Mengapa Transportasi Internasional, Pergudangan, dan Last Mile Delivery Tidak Dapat Dilihat Secara Terpisah
Dalam praktiknya, banyak masalah logistik tidak terjadi di dalam satu tahap saja. Masalah sering muncul pada titik serah terima antar tahap.
Jika transportasi internasional, pergudangan, dan last mile delivery diatur secara terpisah, setiap tahap mungkin tampak memiliki penyedia jasa yang bertanggung jawab, tetapi keseluruhan proses tetap belum tentu berjalan lancar. Yang benar-benar perlu dikelola oleh perusahaan bukan hanya apakah setiap tahap memiliki pihak yang menangani, tetapi apakah setiap tahap terhubung dengan baik ke tahap berikutnya.
Bottleneck yang paling umum sering muncul di beberapa titik.
Barang sudah tiba di pelabuhan, tetapi gudang belum menjadwalkan penerimaan.
Proses kepabeanan sudah selesai, tetapi trucking belum diatur tepat waktu.
Barang sudah masuk ke gudang, tetapi informasi inventori belum diperbarui.
Pesanan sudah masuk, tetapi gudang belum menyelesaikan picking.
Pengiriman sudah keluar, tetapi proof of delivery belum dikembalikan.
Ketika pelanggan meminta pembaruan status, perusahaan masih menunggu jawaban dari berbagai titik kontak.
Situasi seperti ini tidak selalu berarti penyedia logistik melakukan kesalahan. Terkadang, prosesnya memang tidak dirancang dengan integrasi sejak awal.
Transportasi internasional berfokus pada jadwal kapal, jadwal penerbangan, ruang muat, bill of lading, dan pengaturan kedatangan. Pergudangan berfokus pada penerimaan, inventori, picking, dan alur outbound. Last mile delivery berfokus pada dispatching, rute, time window, proof of delivery, dan penanganan kendala. Setiap tahap memiliki keahliannya sendiri, tetapi yang dibutuhkan perusahaan adalah hasil pengiriman secara keseluruhan.
Tanpa perspektif terintegrasi, perusahaan mudah terjebak dalam situasi di mana setiap tahap memiliki pihak yang bertanggung jawab, tetapi tidak ada yang mengoordinasikan gambaran besarnya.
Dari perspektif 4PL, transportasi internasional, pergudangan, dan last mile delivery tidak dapat dilihat secara terpisah, karena ketiganya bersama-sama menentukan apakah perusahaan dapat melakukan pengiriman secara andal. ETA pada tahap transportasi awal memengaruhi penerimaan gudang. Efisiensi operasional gudang memengaruhi pengaturan pengiriman outbound. Pembaruan status pengiriman memengaruhi layanan pelanggan dan keputusan replenishment berikutnya.
Logistik bukan sekadar penjumlahan dari tahap-tahap yang terpisah. Logistik adalah pengelolaan bagaimana setiap titik saling terhubung.
Rantai logistik yang matang seharusnya mempertimbangkan kebutuhan hilir bahkan sebelum barang berangkat. Apakah tujuan membutuhkan penerimaan gudang? Apakah diperlukan pembongkaran kontainer dan penyortiran barang? Apakah barang akan dikirim secara bertahap? Apakah ada time window penerimaan tertentu? Apakah perusahaan perlu menahan inventori? Apakah pelanggan yang berbeda memiliki persyaratan inbound yang berbeda?
Jika pertanyaan-pertanyaan ini baru dibahas setelah barang tiba, biasanya waktu sudah sangat terbatas, dan biaya menjadi lebih sulit dikendalikan.
Jadi, jika last mile ingin stabil, ia tidak dapat hanya bergantung pada tahap pengiriman akhir. Diperlukan desain bersama antara transportasi internasional, manajemen gudang, dan perencanaan pengiriman.
4. Lima Kemampuan yang Harus Dimiliki Rantai Logistik yang Dapat Dikelola
Untuk mengurangi bottleneck logistik, perusahaan tidak dapat hanya mengandalkan pelacakan barang di menit-menit terakhir atau janji dari satu penyedia jasa. Rantai logistik yang benar-benar dapat dikelola setidaknya harus memiliki lima kemampuan.
Pertama, visibilitas setiap titik.
Perusahaan harus mengetahui dengan jelas di mana posisi barang, tahap mana yang sudah selesai, titik mana yang akan terjadi berikutnya, dan siapa yang bertanggung jawab menanganinya. Visibilitas seperti ini bukan hanya tentang melihat apakah barang sudah berangkat atau sudah tiba. Ini berarti kemampuan untuk melacak status penuh mulai dari pengiriman di titik asal, transportasi internasional, kepabeanan di negara tujuan, pickup dan penerimaan gudang, tally gudang, proses outbound pesanan, last mile delivery, hingga proof of delivery.
Bagi perusahaan, nilai sebenarnya bukan memiliki data logistik dalam jumlah besar. Nilai sebenarnya adalah memiliki informasi yang tepat untuk mendukung pengambilan keputusan.
Kedua, status gudang yang dapat ditelusuri.
Barang yang “berada di gudang” dan barang yang “siap dikirim” adalah dua hal yang berbeda. Setelah barang masuk ke gudang, barang mungkin masih menunggu proses penerimaan. Barang mungkin sudah diterima tetapi belum ditempatkan. Barang mungkin sudah ditempatkan tetapi belum diperbarui di sistem. Jika perusahaan hanya tahu bahwa barang telah tiba di gudang, tetapi tidak tahu apakah barang sudah tersedia untuk pengiriman outbound, perusahaan akan sulit memberikan komitmen pengiriman yang akurat kepada pelanggan.
Status gudang seharusnya memungkinkan perusahaan memahami apakah penerimaan sudah selesai, apakah inventori akurat, apakah ada kekurangan atau kerusakan, apakah barang sudah masuk proses picking, dan apakah pengiriman dapat diatur.
Ketiga, persyaratan pengiriman yang direncanakan sejak awal.
Jika model pengiriman perusahaan terbatas pada pengiriman ke satu titik, prosesnya relatif sederhana. Tetapi jika melibatkan pengiriman ke banyak titik, pengiriman bertahap, replenishment gudang luar negeri, persyaratan inbound B2B, atau pemenuhan pesanan e-commerce, pengiriman tidak bisa menunggu sampai barang tiba di gudang baru kemudian diatur.
Stabilitas last mile tidak berasal dari mencari kendaraan di menit terakhir. Stabilitas itu berasal dari pemahaman sejak awal mengenai ke mana barang harus dikirim, kapan barang harus dikirim, siapa yang akan menerima, apakah diperlukan appointment, dan apakah ada persyaratan dokumen atau kemasan.
Keempat, manajemen kendala secara terpusat.
Manajemen logistik yang matang bukan berarti tidak pernah ada kendala. Artinya, ketika kendala terjadi, masalah dapat ditemukan, dilaporkan, dan ditangani dengan cepat.
Keterlambatan, kekurangan barang, kerusakan, alamat yang salah, penolakan oleh consignee, perbedaan dokumen, dan terlewatnya jadwal pengiriman dapat terjadi. Kuncinya adalah apakah perusahaan dapat dengan cepat mengidentifikasi di tahap mana kendala terjadi, siapa yang sedang menanganinya, tindakan korektif apa yang diperlukan, dan apakah hal tersebut akan memengaruhi komitmen kepada pelanggan.
Jika setiap tahap melapor melalui titik kontak yang berbeda, tim internal perusahaan akan menghabiskan banyak waktu untuk merapikan informasi. Dengan peran koordinasi yang terpadu, penanganan kendala menjadi lebih terstruktur, dan masalah lebih kecil kemungkinannya untuk saling dilempar di antara penyedia jasa yang berbeda.
Kelima, rincian dan evaluasi biaya.
Biaya last mile tidak boleh dievaluasi hanya dari tarif pengiriman. Biaya fulfillment secara menyeluruh juga dapat mencakup pergudangan, penyortiran, picking, packing, pelabelan, waktu tunggu, pengiriman ulang, retur, penanganan kendala, dan biaya komunikasi.
Sebagian perusahaan pada awalnya memilih solusi satu titik yang terlihat lebih murah. Namun ketika volume pesanan bertambah, titik pengiriman meningkat, dan persyaratan pelanggan menjadi lebih kompleks, biaya tersembunyi mulai muncul secara bertahap.
Karena itu, perusahaan tidak seharusnya hanya bertanya, “Berapa biaya pengiriman ini?” Mereka juga perlu bertanya, “Apakah seluruh proses ini dapat mendukung model pengiriman saya secara andal?”
5. Perusahaan yang Berbeda Memiliki Kebutuhan yang Berbeda terhadap Integrasi Last Mile dan Pergudangan
Tidak ada satu jawaban tetap untuk last mile delivery. Setiap perusahaan memiliki jenis produk, model penjualan, struktur pelanggan, dan tahap perkembangan pasar yang berbeda. Kebutuhan mereka terhadap integrasi pergudangan dan pengiriman juga akan berbeda.
Untuk perusahaan impor dan ekspor secara umum, fokus utama last mile biasanya adalah pengiriman yang andal dan ritme kedatangan yang stabil. Apakah barang dapat dikirim ke pelanggan tepat waktu dapat memengaruhi rencana produksi, jadwal penjualan, atau komitmen kepada pelanggan. Perusahaan seperti ini tidak selalu mengejar pengiriman tercepat, tetapi sangat memperhatikan apakah waktu pengiriman dapat diprediksi, apakah kendala dapat diidentifikasi lebih awal, dan apakah pelanggan dapat memahami status barang dengan jelas.
Untuk merek B2B dan distributor, last mile delivery bukan hanya soal mengirim barang ke sebuah alamat. Pengiriman juga harus memenuhi persyaratan penerimaan pelanggan. Pelanggan besar, gudang distribusi, pabrik, atau pusat distribusi regional sering memiliki time window pengiriman tertentu, sistem appointment, pembatasan dock, persyaratan palet, persyaratan label, dokumen pengiriman, dan prosedur proof of delivery. Jika detail-detail ini tidak dikonfirmasi sebelumnya, hasilnya bisa berupa penolakan, waktu tunggu, atau pengiriman ulang.
Untuk perusahaan yang sedang memperluas pasar baru, pertanyaan terbesar adalah apakah struktur logistiknya dapat mendukung pertumbuhan.
Ketika volume pesanan masih rendah, perusahaan mungkin masih dapat mengelola pengiriman dengan pendekatan yang lebih sederhana. Namun ketika pasar berkembang, jumlah SKU bertambah, titik pengiriman berlipat, dan persyaratan pelanggan menjadi lebih menuntut, metode awal mungkin tidak lagi mencukupi. Pada tahap ini, perusahaan perlu berpikir melampaui pengiriman satu per satu dan mengevaluasi apakah tata letak gudang, strategi inventori, ritme pengiriman, dan kemampuan koordinasi 4PL sudah mampu mengikuti perkembangan bisnis.
Jadi, last mile delivery tidak seharusnya diperlakukan sebagai pos biaya tetap semata. Last mile perlu ditinjau sebagai bagian dari strategi rantai pasok perusahaan yang lebih luas.
6. Enam Pertanyaan Sebelum Mengevaluasi Integrasi Last Mile dan Pergudangan
Sebelum memilih solusi last mile delivery atau integrasi gudang, perusahaan dapat mulai dengan mengajukan enam pertanyaan.
Pertama, setelah barang mencapai negara tujuan, apakah barang akan dikirim langsung, diterima ke dalam gudang, atau dikirim keluar secara bertahap?
Hal ini secara langsung memengaruhi desain logistik berikutnya. Jika barang hanya perlu dikirim ke satu titik penerimaan, prosesnya relatif sederhana. Namun jika barang perlu disimpan sementara, dikirim secara bertahap, dikirim ke banyak titik, atau ditangani sesuai persyaratan pelanggan yang berbeda, perencanaan gudang dan last mile delivery perlu dipertimbangkan bersama.
Kedua, apakah gudang dapat mendukung kebutuhan pemenuhan pesanan perusahaan?
Perusahaan yang berbeda membutuhkan kemampuan gudang yang berbeda. Sebagian hanya membutuhkan penyimpanan dasar dan proses outbound. Sebagian lainnya membutuhkan penerimaan, putaway, picking, packing, pelabelan, penyortiran, penanganan retur, dan laporan inventori. Jika kemampuan gudang tidak sesuai dengan model pesanan, last mile delivery mudah tertahan oleh langkah operasional sebelumnya.
Ketiga, apakah informasi inventori dapat disinkronkan secara real time?
Akurasi inventori memengaruhi komitmen pengiriman yang diberikan perusahaan kepada pelanggan. Jika sistem menunjukkan stok tersedia, tetapi gudang tidak dapat menemukan barang secara fisik, last mile delivery tercepat sekalipun tidak dapat menyelesaikan pesanan. Sebaliknya, jika barang sebenarnya sudah siap dikirim tetapi informasinya belum disinkronkan, perusahaan mungkin melewatkan waktu pengiriman terbaik.
Keempat, apakah pihak penerima memiliki persyaratan pengiriman khusus?
Ini adalah detail yang mudah diabaikan banyak perusahaan. Apakah pihak penerima membutuhkan appointment? Apakah ada time window pengiriman tertentu? Apakah ada pembatasan dock? Apakah diperlukan label, kemasan, palet, atau dokumen proof of delivery tertentu? Semua kondisi ini memengaruhi pengaturan last mile.
Kelima, ketika terjadi kendala, siapa yang bertanggung jawab atas koordinasi terpusat?
Jika perusahaan harus menghubungi carrier, pialang pabean, gudang, penyedia trucking, dan penyedia pengiriman secara terpisah, biaya penanganan kendala akan meningkat. Pendekatan yang lebih baik adalah membangun mekanisme koordinasi dan pelaporan yang jelas, sehingga masalah dapat ditemukan dengan cepat, bukan diperiksa berulang kali ke berbagai pihak.
Keenam, apakah model logistik saat ini dapat mendukung pertumbuhan pesanan di masa depan?
Perusahaan tidak seharusnya mengevaluasi kebutuhan logistik hanya berdasarkan volume pengiriman saat ini. Jika bisnis berencana memperluas pasar baru, menambah pelanggan, meningkatkan jumlah SKU, atau membangun model gudang luar negeri, maka skalabilitas pergudangan dan last mile perlu dipertimbangkan lebih awal.
Tujuan dari enam pertanyaan ini bukan untuk membuat proses logistik menjadi lebih rumit. Tujuannya adalah membantu perusahaan mengidentifikasi titik-titik utama yang benar-benar memengaruhi kualitas pengiriman.
7. Peran TGL: Membantu Perusahaan Menghubungkan Transportasi Internasional, Pergudangan, dan Last Mile ke dalam Proses yang Terkoordinasi
Sebagai perusahaan logistik terintegrasi dan koordinator rantai pasok fourth-party logistics, TGL tidak hanya berfokus pada satu jalur transportasi, tetapi juga pada apakah keseluruhan rantai logistik perusahaan dapat terhubung secara efektif.
Dalam perencanaan logistik praktis, transportasi internasional, koordinasi kepabeanan, pergudangan luar negeri, arus inventori, transportasi darat di negara tujuan, dan last mile delivery jarang berdiri sendiri sebagai tugas yang terpisah. Semua tahap ini saling memengaruhi dan bersama-sama menentukan kualitas pengiriman yang dapat diberikan perusahaan kepada pelanggannya.
Peran TGL adalah membantu perusahaan meninjau proses mereka dari perspektif rantai pasok secara menyeluruh, sekaligus menyediakan layanan logistik internasional serta layanan pergudangan dan distribusi terkait. Ini mencakup pengaturan pengiriman laut dan udara internasional, koordinasi dokumen dan kepabeanan, integrasi sumber daya gudang luar negeri dan distribusi pergudangan, koordinasi pengiriman di negara tujuan, pelacakan barang, serta pelaporan kendala.
Bagi perusahaan, nilai dari integrasi ini bukan hanya soal menyelesaikan pengiriman. Nilainya terletak pada membuat proses logistik lebih mudah dikelola.
Ketika perusahaan dapat melacak barang dari titik asal hingga gudang tujuan, lalu berlanjut ke last mile delivery, mereka dapat merencanakan inventori dengan lebih akurat, merespons pelanggan dengan lebih andal, dan melakukan penyesuaian dengan lebih mudah ketika terjadi kendala.
Last mile delivery mungkin terlihat sebagai tahap terakhir dalam rantai logistik, tetapi yang benar-benar menentukan apakah tahap ini dapat diselesaikan dengan lancar adalah apakah setiap titik sebelumnya telah dikoordinasikan dengan baik. Bagi perusahaan yang sedang memperluas pasar baru, menggunakan gudang luar negeri, memperkuat pengiriman B2B, atau meningkatkan efisiensi fulfillment e-commerce lintas batas, kemampuan logistik terintegrasi dan koordinasi 4PL secara bertahap akan menjadi faktor kunci dalam mendukung stabilitas rantai pasok.
Kami akan sangat menghargai jika Anda dapat membagikan Blog TGL kepada teman-teman yang tertarik dengan informasi pasar rantai pasok terkini serta perkembangan ekonomi terbaru.