Quote
Factory Buyer Rate Questions

blog

Bagaimana Taiwan Membatasi Impor dari Tiongkok: Memahami Kerangka Kelembagaan Melalui Kode HS

29 Apr 2026

By keira Lo    Photo:CANVA

 

Ketika membahas perdagangan lintas selat, satu pertanyaan yang sering muncul adalah:
Aturan “tarif” seperti apa yang digunakan Taiwan untuk membatasi impor dari Tiongkok?

Jawabannya mungkin sedikit berlawanan dengan dugaan umum. Taiwan tidak terutama mengandalkan tarif tinggi. Sebaliknya, Taiwan menggunakan regulasi impor untuk menentukan apakah suatu produk boleh masuk ke pasar atau tidak.

Artikel ini menjelaskan hubungan antara larangan impor dan Kode HS secara sederhana, termasuk contoh praktis seperti sekrup dan fastener.


1. Konsep Utama: Bukan Tarif Tinggi, tetapi Larangan Langsung

Dalam sebagian besar sistem perdagangan internasional, negara menggunakan tarif untuk melindungi industri dalam negeri. Tarif yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya impor, sementara tarif yang lebih rendah menunjukkan pasar yang lebih terbuka.

Taiwan mengambil pendekatan yang berbeda terhadap barang asal Tiongkok.

Berdasarkan Act Governing Relations between the People of the Taiwan Area and the Mainland Area, pemerintah menerapkan sistem di mana “barang yang tidak dibuka untuk impor dianggap dilarang.”

Dengan kata lain, alih-alih mengenakan tarif yang sangat tinggi, Taiwan cukup tidak mengizinkan produk tertentu untuk diimpor.


2. Apakah Kode HS Masih Relevan?

Ya, dan Kode HS tetap sangat penting.

Setiap produk dalam perdagangan internasional memiliki Kode HS. Taiwan juga mengikuti sistem ini. Namun, Taiwan menambahkan satu lapisan tambahan: setiap kode disertai dengan status regulasi impor.

Penanda yang paling penting adalah:

MW0, yang berarti “impor dilarang.”

Jika Kode HS suatu produk diberi tanda MW0, artinya produk tersebut sepenuhnya dilarang untuk diimpor dari Tiongkok. Inilah yang secara efektif membentuk “daftar larangan” yang sebenarnya.


3. Kategori Utama Kode HS yang Dibatasi

Meskipun tidak ada satu daftar larangan yang berdiri sendiri, beberapa sektor dalam praktiknya masih sangat dibatasi.

Kategori pertama adalah produk pertanian, yang merupakan sektor dengan perlindungan paling ketat. Komoditas pokok seperti beras (HS 1006) dan gandum (HS 1001) hampir seluruhnya dilarang. Buah segar seperti apel dan pir (HS 0808), jeruk (HS 0805), serta pisang (HS 0803) juga sebagian besar dibatasi. Sayuran seperti bawang bombai dan bawang putih (HS 0703), sayuran lainnya (HS 0709), serta produk daging termasuk daging sapi, babi, dan unggas (HS 0201 hingga 0207) sebagian besar dilarang. Pembatasan ini didorong oleh perlindungan industri dalam negeri dan pertimbangan biosekuriti.

Kategori kedua adalah tekstil dan pakaian, termasuk pakaian rajutan (HS 6101 hingga 6117) dan pakaian non-rajutan (HS 6201 hingga 6217). Beberapa produk berbiaya rendah masih dibatasi untuk melindungi usaha kecil dan menengah lokal.

Kategori ketiga adalah alas kaki, yang mencakup HS 6401 hingga 6405. Beberapa subkategori tertentu masih dikenakan pembatasan.

Kategori keempat mencakup furnitur dan bahan bangunan, seperti furnitur (HS 9403), bahan bangunan kayu (HS 4418), produk batu (HS 6802), dan produk semen (HS 6810).

Kategori kelima adalah produk baja, termasuk pelat baja (HS 7208 hingga 7212) dan pipa baja (HS 7306). Pembatasan biasanya diterapkan pada spesifikasi tertentu.

Kategori keenam mencakup barang industri dasar seperti sekrup dan fastener. Di bawah HS 7318, yang mencakup sekrup, baut, dan mur, tidak semua barang dapat diimpor secara bebas. Dalam praktiknya, beberapa produk diperbolehkan, khususnya untuk penggunaan industri, sementara jenis tertentu yang berharga rendah atau memiliki spesifikasi tertentu dibatasi atau dikenakan tindakan anti-dumping. Hal ini mencerminkan posisi Taiwan sebagai salah satu eksportir fastener utama dunia, sekaligus kebutuhan untuk mengurangi dampak impor berharga rendah dari Tiongkok.


4. Bagaimana Kerangka Kelembagaan Ini Bekerja

Apakah suatu produk dapat diimpor bergantung pada apakah Kode HS produk tersebut termasuk dalam daftar impor yang disetujui, bukan pada besaran tarifnya.

Dengan kata lain, tarif bukan faktor penentu. Pengendalian administratiflah yang menentukan.


5. Mengapa Menggunakan Larangan, Bukan Tarif?

Ada tiga alasan utama.

Pertama, larangan lebih efektif. Tarif tinggi masih memungkinkan barang masuk, tetapi larangan dapat memblokir impor sepenuhnya.

Kedua, sistem ini memberikan fleksibilitas. Pemerintah dapat dengan cepat menyesuaikan produk mana yang diperbolehkan atau dibatasi sesuai perubahan situasi.

Ketiga, sistem ini mencerminkan kerangka hukum dan politik yang khusus. Perdagangan lintas selat tidak diperlakukan sebagai perdagangan internasional biasa, melainkan diatur oleh regulasi khusus.

Saat ini, lebih dari dua ribu Kode HS dikenakan pembatasan atau larangan. Kode-kode tersebut mencakup puluhan sektor, tetapi terkonsentrasi pada pertanian, manufaktur tradisional, dan barang industri dasar seperti baja serta fastener.


6. Kesimpulan

Taiwan tidak membatasi barang asal Tiongkok melalui tarif. Sebaliknya, Taiwan menggunakan sistem berbasis daftar untuk menentukan apakah suatu produk boleh masuk ke pasar.

Yang sering disebut sebagai “pos tarif yang dilarang” pada dasarnya adalah seluruh Kode HS yang diberi tanda MW0.

Pada akhirnya, apakah suatu produk dapat diimpor bukan ditentukan oleh seberapa tinggi tarifnya, tetapi oleh apakah pemerintah mengizinkan produk tersebut masuk sejak awal.

 

Kami akan sangat menghargai jika Anda dapat membagikan Blog TGL kepada teman-teman yang tertarik dengan informasi pasar rantai pasok terkini serta perkembangan ekonomi terbaru.

Get a Quote Go Top