Lonjakan Blank Sailing: Taktik Bertahan yang Dihitung Para Carrier di Tengah Kemerosotan Tarif Berkepanjangan

By Eric Huang Photo:CANVA
Pada suatu pagi muram jelang libur Hari Nasional Tiongkok, crane dermaga raksasa di Pelabuhan Air Dalam Yangshan, Shanghai, berdiri bak penjaga baja di atas beberapa kapal kontainer yang tengah bersandar. Arus truk yang biasanya ramai memasok kontainer ke terminal melambat menjadi aliran tipis. Ritme arus kargo jelas kehilangan urgensinya. Di pusat operasi, para koordinator logistik menatap monitor, berulang kali memeriksa jadwal pelayaran. Notifikasi baru dari sebuah perusahaan pelayaran—terkirim dua hari sebelumnya—muncul lagi: satu pelayaran Asia–Eropa yang dijadwalkan pekan itu dibatalkan dengan alasan “kondisi pasar.” Di balik frasa yang sudah akrab ini, tersembunyi sebuah taktik krusial yang kian diandalkan operator pelayaran (carrier) untuk mengelola pasar yang lesu saat ini—blank sailing (pembatalan pelayaran terjadwal).
Selama setahun terakhir, pasar angkutan kontainer global terperangkap dalam penurunan tarif yang berkepanjangan. Menghadapi permintaan yang melemah, kelebihan kapasitas kronis, dan marjin yang tergerus, para carrier mengaktifkan kembali dan memperluas program blank sailing—membatalkan keberangkatan terjadwal untuk memangkas suplai dan menyangga tarif. Ini bukan strategi baru, namun skala dan frekuensi penerapannya kini jauh melampaui siklus turun sebelumnya. Yang dulu hanyalah langkah korektif sesekali, kini telah menjadi instrumen operasional rutin.
Pendorong utama strategi ini adalah ketidakseimbangan suplai–permintaan yang mencolok. Menurut Container Trade Statistics, volume perdagangan Asia–Eropa turun sekitar 7 persen pada kuartal II 2025 dibanding tahun sebelumnya. Permintaan Trans-Pasifik juga melemah, karena importir di AS memajukan pemesanan dan mendiversifikasi sumber pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok. Pada saat yang sama, banjir kapal raksasa yang dipesan saat boom pandemi 2021–2022 terus berdatangan. Alphaliner memperkirakan armada kontainer global tumbuh lebih dari 8 persen pada 2024—jauh melampaui pertumbuhan perdagangan. Datangnya kelebihan kapasitas ini makin menekan tarif angkutan yang sudah mendekati level pra-pandemi.
Dalam kondisi seperti ini, pilihan carrier tidak banyak. Memotong tarif untuk mengejar muatan hanya akan mempercepat kemerosotan pasar. Melakukan lay-up kapal itu mahal dan kaku. Slow steaming dapat menyerap sebagian kapasitas, tetapi tidak menutup jurang yang ada. Sebaliknya, blank sailing menawarkan cara cepat dan fleksibel untuk mengurangi kapasitas. Membatalkan satu pelayaran tetap saja dapat memangkas kapasitas di suatu trade sekitar 20 persen, sementara konsolidasi booking ke lebih sedikit pelayaran meningkatkan utilisasi dan menghemat bahan bakar bunker, biaya pelabuhan, dan biaya operasional. Blank sailing lebih dari sekadar melewatkan satu voyage—ini adalah pengurangan pasokan yang terarah demi menstabilkan harga.
Bagi carrier, logikanya sederhana. Mengoperasikan kapal 24.000 TEU pada utilisasi 50–60 persen akan cepat menggerus marjin, apalagi harga bahan bakar masih tinggi. Membatalkan voyage dan memusatkan volume ke pelayaran lain sering kali lebih efisien daripada berlayar dalam kondisi merugi. Lebih penting lagi, blank sailing yang terkoordinasi membantu carrier mempertahankan disiplin harga dan menghindari perang tarif yang merusak—sangat krusial di industri yang kompetitif.
Namun bagi shipper dan freight forwarder, efek sampingnya signifikan. Pembatalan mendadak dapat menciptakan kekurangan ruang jangka pendek dan rollover muatan bahkan di pasar yang lemah. Bagi rantai pasok yang bergantung pada jadwal reguler, ketidakpastian ini bisa menghantam keras. Menurut Sea-Intelligence, keandalan jadwal global hanya sekitar 53 persen pada pertengahan 2025—jauh di bawah level pra-pandemi 75–80 persen. Setiap blank sailing atau penghilangan kunjungan pelabuhan dapat mengganggu jadwal produksi dan pengiriman, memaksa perusahaan membangun buffer yang lebih panjang atau mencari rute dan moda alternatif. Eksportir komponen otomotif dan barang FMCG mulai mendiversifikasi portofolio carrier mereka atau menegosiasikan perjanjian perlindungan ruang (space protection) untuk meredam dampak pembatalan mendadak.
Terlepas dari gangguan ini, carrier tidak menunjukkan tanda akan mengendur. Banyak yang kini memperlakukan blank sailing sebagai bagian standar dari toolkit operasional. Pemberitahuan mingguan kepada pelanggan dipenuhi frasa seperti “penyesuaian layanan,” “optimasi kapasitas,” dan “rasionalisasi jaringan.” Awal tahun ini, Hapag-Lloyd mengumumkan blank sailing pada layanan FE5 sebagai bagian dari inisiatif “optimalisasi jaringan” yang ditujukan untuk “menjamin kualitas layanan secara keseluruhan.” Meski shipper mungkin tidak sependapat dengan framing tersebut, pesannya jelas: blank sailing bukan lagi solusi sementara, melainkan bagian integral dari strategi carrier.
Hasil keuangan menunjukkan pendekatan ini bekerja. Pada laporan laba rugi kuartal I dan II 2025, beberapa carrier besar mencatat penurunan pendapatan, namun penurunan laba lebih kecil dari perkiraan. Maersk menyoroti bahwa segmen Ocean tetap menghasilkan arus kas positif, yang diatribusikan pada blank sailing dan slow steaming. CMA CGM mengkredit “penyesuaian jaringan yang dinamis” sebagai peredam tekanan pendapatan. Hapag-Lloyd mempertahankan tarif angkutan rata-rata yang relatif stabil meskipun volume turun—besar berkat program blank sailing. Taktik ini tidak menyelesaikan kelebihan kapasitas struktural, namun memberi carrier tambahan waktu.
Pekan-pekan setelah Tahun Baru Imlek 2025 menjadi ilustrasi yang jelas dari strategi ini. Ocean Alliance membatalkan beberapa pelayaran Asia–Eropa: layanan AE1 dari Shanghai ke Rotterdam pada pekan 8, keberangkatan AE7 dari Ningbo pada pekan 10, dan mengalihkan kapal AE10 ke loop intra-Asia pada pekan 12. Langkah-langkah ini memperpanjang lead time booking, namun berhasil mencegah tarif spot turun di bawah USD 1,200 per FEU (kontainer 40 kaki). Para analis mencatat tanpa pemotongan ini, tarif mudah saja meluncur ke kisaran empat digit di tengah lemahnya permintaan Eropa.
Contoh lain terjadi pada akhir 2024. Menghadapi booking yang kurang di Trans-Pasifik, MSC membatalkan tiga pelayaran berturut-turut dan mengonsolidasikan muatan ke layanan lain. Para eksportir harus menunda pengapalan, tetapi tarif untuk pantai barat bertahan di kisaran USD 1,900–2,000 per FEU. Tanpa pengurangan tersebut, kata para analis, tarif bisa saja merosot di bawah USD 1,500—level yang berarti kerugian bagi sebagian besar carrier di rute jarak jauh.
Kenaikan blank sailing menyoroti keseimbangan sulit yang dihadapi carrier di pasar lesu. Membatalkan terlalu sedikit pelayaran, tarif ambruk. Membatalkan terlalu banyak, keandalan layanan memburuk dan risiko kehilangan pelanggan meningkat. Untuk saat ini, carrier jelas memilih trade-off yang kedua: menerima keluhan tentang jadwal yang tak andal ketimbang membiarkan tarif jatuh bebas. Blank sailing pada 2025 bukanlah respons panik—melainkan manuver yang disengaja dan diperhitungkan dalam lingkungan tarif baru yang menantang.
Ke depan, blank sailing kecil kemungkinan menghilang. Dengan lebih banyak kapal baru yang akan dikirim pada 2025 dan 2026 serta pertumbuhan permintaan yang hanya moderat, carrier akan terus mengandalkan alat ini untuk menjaga pasar tetap terkendali. Jika kondisi memburuk, blank sailing bisa dipadukan dengan langkah lebih drastis seperti lay-up kapal atau penarikan layanan. Bagi shipper, ini berarti menerima “new normal” di mana jadwal yang dipublikasikan tidak lagi terjamin, dan fleksibilitas dalam perencanaan rantai pasok menjadi esensial.
Kami akan sangat menghargai jika Anda dapat membagikan Blog TGL kepada teman-teman yang tertarik dengan informasi pasar rantai pasok terkini serta perkembangan ekonomi terbaru.